SIDRAP mediafpii-sulsel.my.id, - Langkah strategis guna menyelaraskan arah pembangunan Kawasan Transmigrasi Pitu Riase resmi dimulai melalui gelaran Focus Group Discussion (FGD) Tingkat Kabupaten. Agenda ini digagas oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (UNHAS) 2026 yang berkolaborasi erat dengan jajaran pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Forum diskusi ini dirancang sebagai ruang konsolidasi lintas sektor untuk membedah berbagai isu krusial, memetakan potensi daerah, serta merumuskan langkah konkret selanjutnya. Fokus utamanya adalah mewujudkan kawasan transmigrasi yang terintegrasi melalui pengembangan produk unggulan, hilirisasi, penguatan kelembagaan ekonomi, masuknya investasi, kepastian pertanahan, perbaikan infrastruktur, hingga penataan ulang deliniasi wilayah.
Sinergi multipihak terlihat jelas dari hadirnya deretan instansi teknis dan akademisi. Kegiatan ini dihadiri oleh DISKOPUKMNAKERTRANS, BAPPERIDA, DIBICIPTAPERA, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Disporapar, DPMPTSP, Kantor Pertanahan, Disdagrin, DLH, serta Dinas Perikanan dan Peternakan. Hadir pula Camat Pitu Riase, Camat Pitu Riawa, serta jajaran pakar dari Kampus Vokasi UNHAS, Universitas Ichsan Sidrap, dan Universitas Muhammadiyah Sidrap.
Dinas Koperasi, UKM, Nakertrans Kabupaten Sidrap menegaskan komitmennya dalam forum untuk merancang masa depan Pitu Riase sebagai kawasan ekonomi yang produktif, kompetitif, dan berwawasan lingkungan. Penggalian data terkait komoditas prioritas kawasan ini nantinya bakal ditindaklanjuti secara intensif bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Berbagai bahasan strategis mengemuka selama proses diskusi berlangsung. Isu prioritas yang diangkat mencakup arah deliniasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang melingkupi dua ibu kota kecamatan dan UPT Lagading, akses jalan lintas kabupaten, hingga peta jalan hilirisasi tiga komoditas andalan: kopi, kakao, dan kelapa
Sektor kelembagaan dan tata kelola ekonomi warga juga menjadi sorotan utama. Forum menggarisbawahi pentingnya harmonisasi peran Pokdarwis, BUMDes, dan Kopdes, fasilitas kemudahan investasi, legalitas usaha, pelatihan pengemasan produk, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), hingga perencanaan produk turunan yang bernilai tambah.
Di sisi teknis wilayah, persoalan ketersediaan pemenuhan air bersih menjadi catatan kritis yang wajib diakomodasi dalam tata ruang RDTR. Selain itu, terdapat usulan penyesuaian batas wilayah kawasan transmigrasi, yakni dengan memasukkan Desa Leppangeng dan mengeluarkan Desa Kalempang demi optimalisasi deliniasi.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNHAS 2026, Ir. Dewa Sagita Alfadin Nur, S.T., M.T., menegaskan bahwa FGD level kabupaten ini memegang peranan kunci dalam menyatukan persepsi seluruh elemen pemerintah daerah demi kemajuan Pitu Riase.
“Program ini merupakan keberlanjutan dari output penelitian Tim Ekspedisi Patriot 2025, diharapkan dengan adanya FGD tingkat kabupaten menjadi ajang dalam menyatukan perspektif dalam mendukung pengembangan di kawasan transmigrasi,” ungkap Dewa Sagita.
Ia menambahkan bahwa seluruh aspirasi yang terhimpun tidak sekadar berhenti sebagai catatan rapat, melainkan diolah menjadi pondasi utama penyempurnaan dokumen perencanaan dan rekomendasi kebijakan. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemkab, tingkat kecamatan, hingga pemerintah desa.
Secara menyeluruh, penyelenggaraan FGD ini memperkokoh kerja sama lintas sektor dalam merancang masa depan kawasan transmigrasi. Penyelarasan potensi lokal, program investasi, hingga penyelesaian problem logistik serta status tanah menjadi agenda bersama yang terus dikawal.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh tim peneliti Ekspedisi Patriot UNHAS 2026 yang terdiri dari Muhammad Ammar Dzikra, S.T., Dwina Wahdaniah. HA, S.T., Firdaus, S.T., Fitri Mardiana, S.Tr. T., dan Novianti, S.E., serta diperkuat personel Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota UNHAS, Muh. Akbar dan Muh. Azriel Anantha H.M.
Sebagai penutup rangkaian diskusi, seluruh poin kesepakatan dan rekomendasi dari para pemangku kepentingan akan ditindaklanjuti melalui koordinasi berkesinambungan. Hasil akhir FGD ini diproyeksikan menjadi rujukan utama dalam penyempurnaan dokumen perencanaan Kawasan Transmigrasi Pitu Riase. (auliyaa risal)
