Webmaster


Iklan

Media FPII Sulsel
Jumat, 28 Agustus 2026, Agustus 28, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-28T00:29:06Z
DaerahEkonomientertementFashionheadlinehiburanNasionalOlahragaParlementariapolitiksorotanterpopulerToptotorialTutorial

Roboh Karna Gempa, Lambertus Pilih Tinggalkan Rumah dan Nginap di Tenda, dan Apresiasi Relawan UMI Datang Membawa Bantuan dan Layanan Medis.



MANGGARAI NTT mediafpii-sulsel.my.id, — Haru dan duka masih melingkupi warga Kampung Nggori (Gendang Gori), Desa Bangka John, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sejak gempa bumi tektonik mengguncang kawasan dataran tinggi tersebut pada 15 Agustus 2026 lalu, puluhan kepala keluarga terpaksa bertahan di dalam tenda-tenda darurat yang didirikan di atas tanah lapang, sekitar 8 kilometer dari kota Ruteng.


​Keberadaan warga di lokasi pengungsian bukan didasari oleh pilihan pribadi, melainkan kondisi memaksa lantaran kediaman mereka telah hancur dan membahayakan keselamatan. Tokoh adat Kampung Nggori, Lambertus (53), menegaskan bahwa masyarakat tidak memiliki opsi selain bertahan di tenda karena struktur rumah yang rata dengan tanah. "Kami tidak bisa tinggal di rumah. Kami tidak bisa tinggalkan begitu saja karena sudah roboh," ungkapnya saat menyambut kunjungan Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rabu 26 Agustus 2026


​Tinggal di tenda pengungsian kawasan dataran tinggi menyajikan tantangan berat, terutama ketika malam merambat turun. Suhu udara di wilayah Kecamatan Wae Ri’i dapat menembus angka ekstrem 13 hingga 14 derajat Celsius. Dengan perlengkapan pemanas dan selimut seadanya, para pengungsi melintasi malam demi malam dalam gigilan dingin demi menunggu kepastian masa depan pemukiman mereka.


​Di tengah pilu kehancuran bangunan, Lambertus memanjatkan rasa syukur mendalam karena bencana gempa bumi tersebut terjadi pada pagi hari. Saat guncangan hebat melanda, sebagian besar warga sudah terbangun dan beraktivitas di luar rumah, sehingga jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar dapat terhindarkan. "Syukurnya karena waktu itu pagi, jadi orang sudah bangun. Kalau malam, Pak, tidak tahu seperti apa," kenang Lambertus dengan mata berkaca-kaca.




​Meramput derita para penyintas, Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar terjun langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan dukungan moral serta logistik. Wakil Rektor II UMI, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., hadir  secara personal menyapa langsung warga satu per satu di area tenda tanpa batas seremoni formal.


​Kunjungan tatap muka tersebut dimanfaatkan  Wakil Rektor II UMI Prof. Zakir Sabara untuk menyerap aspirasi dan mencatat secara presisi kebutuhan mendesak para pengungsi di lapangan. Bagi jajaran civitas akademika UMI, pengiriman bantuan ke NTT merupakan wujud nyata persaudaraan kebangsaan. "Kami datang karena merasa ini saudara-saudara kita juga. Kita semua bersaudara. Yang bisa kita lakukan, kita lakukan bersama," ungkap Prof. Zakir di hadapan para penyintas.


​Aksi kemanusiaan di Manggarai ini dikuatkan oleh sinergi lintas organisasi, meliputi Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), AR7 Team, Tim Bantuan Medis (TBM) Fakultas Kedokteran UMI, serta KAHMI Manggarai. Layanan pemeriksaan medis komprehensif dan tindakan penanganan kesehatan dipimpin langsung oleh spesialis bedah, dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B., guna memastikan kondisi fisik warga tetap terjaga.


​Tak hanya menghadirkan layanan dokter dan posko kesehatan, tim gabungan turut mendistribusikan perlengkapan penunjang kehidupan mendasar secara cuma-cuma. Bantuan yang disalurkan disesuaikan secara berdaya guna dengan kondisi geografis, meliputi pasokan obat-obatan, tenda keluarga, kebutuhan sanitasi dan balita, serta stok bahan pangan pokok, ungkaap Prof Zakir Sabara




​Pengiriman armada kemanusiaan UMI ini sebelumnya resmi dilepas dari kampus utama di Makassar pada 20 Agustus 2026 oleh Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., bersama Dekan FK UMI, Dr. dr. Nasrudin Andi Mappaware. Kehadiran tim di NTT menjadi bukti nyata bahwa penanganan dampak bencana alam berskala besar menuntut kolaborasi terpadu antara perguruan tinggi, tenaga medis profesional, jaringan alumni, dan komunitas lokal.


​Realita memprihatinkan di Kampung Nggori memperlihatkan bahwa perjuangan para pengungsi belum usai dan masih membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. UMI mengimbau seluruh elemen bangsa—mulai dari sektor akademisi, entitas bisnis, organisasi kemasyarakatan, hingga aliansi alumni—untuk mengambil peran aktif guna mempercepat pemulihan fisik dan psikologis para korban gempa di Nusa Tenggara Timur.


​Bagi UMI, penugasan medis di Manggarai ini menjiwai visi sebagai Kampus Perjuangan dan Pengabdian serta implementasi dari Catur Dharma UMI (Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Komitmen Ke-UMI-an). Pengabdian nyata di tengah warga terisolasi mempertegas prinsip dasar bahwa ilmu pengetahuan dan karakter mulia baru menemukan signifikansi tertingginya ketika diabdikan untuk meringankan beban sesama manusia, terang Prof Zakir Sabara. 


​Mewakili segenap warga Dusun Nggori, Lambertus menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian segenap unsur relawan yang bersedia menembus pelosok Manggarai. Ia turut menitipkan doa agar aksi mulia tersebut terus berlanjut ke titik-titik lokasi terisolasi lainnya yang mengalami nasib serupa. "Atas nama seluruh warga masyarakat Dusun Nggori, kami menyampaikan terima kasih. Doa kami menyertai bapak dan ibu dalam mengunjungi tempat-tempat lain yang situasinya seperti kami alami ini," tutur sang tokoh adat Lambertus. (Risal Bakri).