MAKASSAR mediafpii-sulsel.my.id, - Sebanyak 121 mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang tengah berjuang di babak akhir pendidikan kini dapat bernapas lega. Di tengah ancaman putus kuliah akibat krisis finansial keluarga, UMI meluncurkan Beasiswa Afirmasi Penyelesaian Studi senilai total Rp1,599 miliar. Bantuan ini disalurkan khusus bagi mahasiswa program Sarjana, Magister, hingga Doktor yang penelitian atau skripsinya hampir rampung, namun terkendala biaya untuk mengikuti ujian akhir.
Kebijakan yang diumumkan langsung oleh Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., pada Wisuda Periode II Hari Pertama di Hotel Claro Makassar, Kamis 27 Agustus 2026, ini berawal dari penelusuran mendalam pihak kampus. UMI menemukan bahwa tunggakan biaya bukan disebabkan oleh kemalasan, melainkan karena tragedi tak terduga dalam keluarga mahasiswa—seperti orang tua yang meninggal dunia, PHK, kebangkrutan usaha, biaya pengobatan penyakit kronis, hingga perceraian.
Kendati mengusung semangat kemanusiaan, pihak UMI menegaskan bahwa program afirmasi ini bukanlah bentuk kompromi yang membebaskan mahasiswa dari tanggung jawab akademik. Bantuan ini sama sekali tidak membenarkan mahasiswa untuk menunda-nunda kelulusan. Penerima beasiswa yang telah diverifikasi tetap diwajibkan memenuhi standar kelulusan, menuntaskan penelitian, serta menyelesaikan seluruh tahapan ujian sesuai dengan regulasi universitas yang berlaku.
Bagi UMI, keberhasilan pendidikan tinggi bertumpu pada dua pilar yang seimbang: komitmen mahasiswa untuk lulus tepat waktu dan kepedulian kampus saat pelajarnya diterpa krisis di luar kendali. Prof. Hambali menegaskan, sangat tidak adil jika perjuangan akademis bertahun-tahun harus kandas hanya beberapa langkah sebelum garis finis. UMI memilih untuk hadir dan memastikan mimpi para mahasiswa tersebut tidak terhenti di tengah jalan.
Langkah UMI merespons persoalan ini sekaligus memotret tantangan nyata pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Statistik Pendidikan Tinggi 2025 dari Kemdiktisaintek, angka mahasiswa drop out nasional mencapai 289.670 orang (naik 2,62 persen dibanding tahun sebelumnya). Fenomena ini makin dipertegas oleh data Kemdiktisaintek yang mencatat bahwa 28,2 persen mahasiswa baru PTN pada 2025 bergantung pada KIP Kuliah atau UKT kelompok rendah akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Realitas di lapangan kerap memperlihatkan bahwa kemampuan finansial keluarga tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan akademik mahasiswa. Seorang mahasiswa berprestasi dapat seketika kehilangan penopang finansial ketika penanggung biayanya meninggal dunia di semester akhir. Oleh karena itu, UMI menekankan pentingnya mekanisme pemantauan kondisi ekonomi mahasiswa yang dinamis dan berkesinambungan, tidak hanya diukur saat awal mendaftar perkuliahan.
Pendekatan berbasis empati inilah yang terus dibangun UMI dalam mengelola tunggakan keuangan. Kampus tak lagi melihat daftar tunggakan sebatas angka atau status administratif semata, melainkan berusaha memahami latar belakang tiap individu. UMI secara cermat memisahkan mahasiswa yang kurang disiplin dari mereka yang benar-benar berjuang keras tetapi mendadak kehilangan sumber pembiayaan, sehingga bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran.
Sebagai langkah jangka panjang, UMI mengintegrasikan prinsip kepedulian ini ke dalam transformasi digital menuju Smart Islamic AI-Driven University melalui platform UMI Connection. Mengusung konsep One Access, One Data, One Process dan Executive AI Dashboard, UMI berikhtiar menjadi "Universitas Preventif". Sistem ini dirancang untuk mendeteksi potensi kendala mahasiswa—baik akademik, kesehatan, maupun finansial—sejak dini, sebelum mereka memutuskan untuk berhenti kuliah.
Secara proporsional, UMI menekankan bahwa empati tidak boleh menggerus kualitas mutu pendidikan. Keberhasilan penyaluran dana Rp1,599 miliar ini kelak tidak hanya diukur dari besarnya nominal yang digelontorkan, melainkan dari berapa banyak mahasiswa yang benar-benar berhasil meraih gelarnya serta seberapa cepat mereka menyelesaikan studi setelah menerima intervensi keuangan tersebut.
Semangat inklusivitas UMI juga terpancar dalam gelaran wisuda yang melepas 1.574 lulusan dari delapan fakultas dengan rata-rata IPK 3,73 (84,1 persen cumlaude). Momen tersebut diwarnai kelulusan inspiratif Muhammad Imanuddin, wisudawan tunanetra dari Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan yang meraih IPK 3,81. Kisah ini menegaskan prinsip UMI bahwa perguruan tinggi yang inklusif bukanlah kampus yang menurunkan standar, melainkan yang memberi kesempatan adil bagi setiap mahasiswa untuk mencapai standar tersebut.
Dalam amanatnya, Rektor UMI Prof. Hambali juga menyoroti pentingnya mengatasi "Kesenjangan Manfaat" agar ilmu pengetahuan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Semangat ini ditunjukkan oleh Tim Bantuan Medis FK UMI yang tetap bersiaga membantu korban gempa di NTT saat prosesi wisuda berlangsung. Prinsip "ilmu yang hadir saat dibutuhkan" tersebut kini diterapkan secara internal dalam merespons kesulitan hidup para mahasiswa di lingkungan kampus sendiri, ungkap Rektor Prof Hambali
Lanjut Prof Hambali mengatakan UMI menyadari bahwa bantuan finansial hanyalah salah satu instrumen pemecahan masalah, di samping pendampingan akademik dan layanan kesehatan. Melalui optimalisasi tata kelola data digital, UMI berkomitmen untuk tidak sekadar menjadikan mahasiswa sebagai deretan angka NIM atau indikator warna pada dashboard. Penutupan pidato Rektor memantapkan arah baru pengelolaan perguruan tinggi tersebut: “Satu Data harus melahirkan Satu Kepedulian.” terang Prof Hambali. (Risal Bakri).
